Вход

Log in with

RULES FORUM ~ Wajib dibaca oleh seluruh member Indo.MT5 !

Setiap member forum Indo.MT5 diwajibkan untuk membaca
dan memahami Peraturan yang diberlakukan di forum ini.

Adapun link dari thread-thread yang berisi Peraturan Forum adalah sbb:
  1. Indo MT5 Forum Rules
  2. Peraturan Bonus Posting


Rules untuk thread tertentu secara spesifik:
Sebaiknya member lama juga mengecek kembali thread-thread
yang berisi peraturan tersebut secara berkala, agar tahu jika ada update.

Harap menjadi perhatian seluruh member.

Terima kasih.




Ttd,
Admin & Moderator.
See more
See less
X
 
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts
20
  • #1 Collapse

    Belajar Likuiditas, Volatilitas Serta 5 Indikator Volatilitas Selama Main Trading
    Setiap pasangan mata uang di pasar forex memiliki likuiditas dan volatilitas yang berbeda-beda. Hal inilah yang harus dipahami oleh trader karena bisa mempengaruhi profitabilitas trading. Terlebih pasar forex sendiri digadang-gadang sebagai pasar keuangan terbesar dan paling ramai di dunia.
    Pasar forex dianggap lebih likuid dibanding pasar komoditi, obligasi, serta saham. Untuk lebih memahaminya, Anda bisa menyimak ulasan mengenali likuiditas dan volatilitas di dunia forex melalui ulasan di bawah ini.

    Mengenal Likuiditas Pasar Forex

    Seperti yang telah diketahui, di pasar saham Anda tidak bisa memperoleh harga buy sesuai yang diinginkan. Terlebih jika tidak ada pihak yang membuka posisi sell di harga tersebut. Tidak hanya itu, tak jarang trader harus antri untuk mendapatkan harga buy saham yang sesuai dengan rencana trading.

    Sementara itu, Anda tidak akan menemui kendala seperti ini di pasar forex. Bahkan berapapun harga buy atau sell yang diinginkan ketika trading bisa terwujud. Hal ini bisa didapatkan melalui order pending maupun membelinya secara langsung berdasarkan market price.

    Adapun likuiditas sendiri sebenarnya menggambarkan seberapa mudah suatu aset finansial untuk dikonversi menjadi uang tunai. Adapun pasar forex sendiri bersifat paling likuid karena memungkinkan trader membuka dan menutup posisi trading dengan mudah.

    Adapun nilai transaksi total per hari di pasar forex sudah mencapai $4 triliun. Jumlah ini memecahkan rekor sebagai volume perdagangan terbesar di dunia. Tak heran jika Anda bisa keluar dan masuk pasar sesuai harga yang dikehendaki.

    Meski demikian, tidak semua pair mata uang yang ditradingkan memiliki likuiditas yang tinggi di pasar forex. Terdapat pair mata uang lainnya yang memiliki likuiditas lebih rendah. Sebagai perbandingan, perlu diketahui bahwa pair EUR/USD sifatnya lebih likuid dibanding EUR/TRY.

    Untuk pasangan mata uang USD/JPY likuiditasnya tentu lebih tinggi dibanding USD/MXN ataupun USD/IDR. Pada dasarnya, setiap pair mata uang yang memiliki kapitalisasi pasar besar atau major pairs memang menjadi mata uang likuid.

    Cara Mengetahui Likuiditas Mata Uang

    Mungkin saat ini Anda merasa penasaran bagaimana cara mengetahui likuiditas suatu pasangan mata uang di pasar forex, adapun beberapa caranya yaitu sebagai berikut.

    1. Berdasarkan Spread yang Ditentukan Broker

    Adapun ukuran likuiditas sebuah pair mata uang sebenarnya bisa dilihat berdasarkan spread yang dipatok oleh pihak broker. Contohnya besar spread untuk pair EUR/USD biasanya 1 pip atau 2 pip. Sedangkan untuk EUR/TRY memiliki spread 16 hingga 20 pip.

    Begitu pula dengan pair mata uang USD/JPY yang umumnya memiliki spread 2 sampai 3 pip saja. Sementara itu, USD/MXN spreadnya sebesar 8 pip sampai 12 pip.

    2. Menurut Besarnya Volume Perdagangan

    Pasangan mata uang di pasar forex likuiditasnya juga dipengaruhi oleh besarnya volume perdagangan. Semakin sedikit pair mata uang tersebut ditradingkan, maka likuiditasnya pun semakin rendah.

    Beberapa pair cross mata uang utama di pasar forex sebenarnya cukup jarang ditradingkan. Tak heran jika akhirnya menjadi kurang likuid. Ukuran spreadnya pun relatif lebih tinggi, contohnya pair AUD/NZD dan GBP/CHF dengan spread rata-rata 10 hingga 12 pip.

    Apabila Anda ingin melakukan transaksi dengan membuka posisi buy atau sell di pair mata uang tersebut, maka order yang didapatkan akan sesuai dengan harga yang diinginkan.

    Mengenal Volatilitas di Pasar Forex

    Trader di pasar finansial juga tidak boleh mengabaikan volatilitas. Pada dasarnya, istilah ini mengacu pada jarak fluktuasi harga yang cukup dinamis. Setelah merealisasikan order sesuai rencana, Anda membutuhkan volatilitas harga yang nilainya memadai.

    Tentunya, pergerakan harganya juga terbilang wajar. Jika pergerakan harga secara bolak-balik pada range yang sempit, maka bisa jadi Anda tak mampu melaksanakan trading berdasarkan rencana yang dibuat. Mengingat harga mata uang yang dipilih gagal mencapai target profit.

    Perlu diingat bahwa tidak semua pair mata uang itu sifatnya likuid di pasar forex. Pasalnya, akan selalu ada pergerakan pasar karena volatilitasnya tinggi. Begitu pula pasangan mata uang yang mungkin saat ini memiliki likuiditas rendah.

    Hal itu bukan berarti pair mata uang tersebut tidak akan bergerak menuju volatilitas yang tinggi. Contohnya pair mata uang USD/JPY yang ternyata sifatnya sangat likuid. Namun, jika dibandingkan dengan GBP/USD atau EUR/USD lebih rendah.

    Singkatnya, ukuran volatilitas sendiri bisa diketahui dengan range pergerakan harga yang terjadi di pasar forex. Setiap range tentu berbeda untuk setiap pasangan mata uang. Tidak hanya itu, posisinya pun pasti berubah-ubah dari waktu ke waktu.

    Alasan Trader Harus Memahami Likuiditas dan Volatilitas

    Memahami materi tentang likuiditas dan volatilitas penting dilakukan agar wawasan Anda mengenai dunia forex bertambah. Anda bisa mengetahui lebih dalam mengenai kondisi pasar yang bermacam-macam.

    Begitu pula dengan waktu yang tepat dan kurang menguntungkan untuk melakukan trading. Perubahan yang terjadi pada volatilitas suatu pair mata uang juga bisa terjadi karena sentimen pasar. Terutama yang disebabkan oleh berita tertentu atau dikenal dengan berita fundamental pending.

    Tidak hanya itu, volatilitas tinggi juga biasanya terjadi karena ulah salah satu pelaku pasar, yaitu spekulan yang masuk dalam jumlah besar. Terlebih di kondisi volume perdagangan saat itu sedang menipis atau likuiditasnya menurun.

    Tak heran jika pengaruhnya hanya sementara karena pada dasarnya tidak ada satupun trader yang bisa ‘menggoreng’ pasar saham. Kecuali jika trader tersebut memiliki dana sindikasi yang sangat besar.

    Kapan Likuiditas Pasar Forex yang Paling Tinggi?

    Momen dimana pasar forex memiliki likuiditas yang paling tinggi yaitu ketika terjadinya overlap atau pertemuan antar sesi perdagangan. Terutama untuk sesi Asia, London, dan New York. Lebih tepatnya antara jam 08:00 GMT (jam 15:00 WIB) hingga jam 18:00 GMT (jam 01:00 WIB).

    Sementara itu, likuiditas yang relatif lebih rendah biasanya terjadi di sesi pasar Asia dan menjelang closing pasar New York. Tidak hanya itu, likuiditas dan volatilitas di pasar forex juga bisa sangat sepi di waktu tertentu.

    Terutama di hari libur yang terjadi bersamaan, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru. Oleh karena itu, disarankan untuk tidak memasuki pasar ketika menjelang momen liburan tersebut.

    5 Indikator Volatilitas Selama Main Trading

    Pada dasarnya, volatilitas sendiri layaknya pedang bermata dua di hadapan trader. Anda bisa memahami lima indikator volatilitas agar bisa memantaunya dengan baik untuk menambah peluang profit.

    Volatilitas di pasar forex disebut diibaratkan seperti pedang bermata dua karena memiliki dua sisi yang harus diperhatikan trader. Di satu sisi, volatilitas tinggi membuka peluang menghasilkan profit lebih banyak dalam waktu singkat.

    Sedangkan hal tersebut juga meningkatkan risiko yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, trader yang bijak pasti memperhitungkan volatilitas seperti ini, yaitu dengan memantau indikator volatilitas itu sendiri.

    Pada umumnya, terdapat 5 indikator volatilitas yang dapat dipahami dan digunakan dengan mudah. Biasanya kelima indikator ini sudah tersedia di platform trading. Terutama bagi mereka yang menggunakan Metatrader4 atau Metatrader5, lalu apa sajakah indikator tersebut?

    1. Bollinger Bands

    Indikator yang satu ini ditampilkan dalam bentuk tiga pita yang masing-masing mewakili satu garis MA atau Moving Average. Sedangkan untuk garis lainnya biasanya mewakili satu standar deviasi tertentu dari MA.

    Ketika terdapat jarak di antara dua pita terlebar, maka saat itu juga volatilitas pasar akan bertambah. Sementara itu, jarak antar pita akan semakin sempit. Dengan demikian, volatilitas pasar pun akan berkurang.
    Click image for larger version

Name:	1BB.jpg
Views:	1
Size:	38.7 KB
ID:	13023708
    2. Average True Range (ATR)

    Biasanya indikator ATR ini akan muncul pada sub-window yang letaknya di bawah layar grafik harga utama. Semakin tinggi letak garis ATR ini pada pair mata uang ini, maka perkiraan volatilitas pun semakin tinggi.

    Namun, ATR sendiri sebenarnya tergolong lagging indicator karena digunakan berdasarkan harga historis di pasar trading. Adapun sifat lagging ini sebenarnya bisa meminimalisir tingkat akurasi indikator ini.

    ATR akan menunjukkan kemungkinan kenaikan setelah volatilitas pasar melonjak cukup drastis. Tak heran jika akhirnya Anda bisa seperti ‘ketinggalan kereta’. Meski demikian, indikator yang satu ini sebenarnya terbilang layak untuk dimanfaatkan, terutama untuk trading jangka menengah hingga jangka panjang.
    Click image for larger version

Name:	2ATR.jpg
Views:	1
Size:	32.3 KB
ID:	13023709
    3. Keltner Channel

    Indikator volatilitas selanjutnya dikenal dengan nama Keltner Channel. Tampilannya mungkin akan mengingatkan Anda dengan indikator bollinger bands. Namun, tentunya pembuatan dan metode pembacaannya berbeda dengan BB.

    Indikator Keltner Channel sendiri terdiri dari dua buah pita yang digambarkan menurut ATR. Terutama dari Exponential Moving Average 20 hari ada chart pasangan mata uang terkait. Untuk volatilitas harga yang tinggi, biasanya akan membuat grafik harga bergerak menembus ke atas maupun bawah pita Keltner Channel ini.

    Jika harga menembus ke atas, maka terjadi kecenderungan trend selanjutnya akan Bullish. Sementara itu, ketika harga tembus ke bawah maka trend yang akan terjadi berikutnya akan bearish.
    Click image for larger version

Name:	3KC.jpg
Views:	1
Size:	39.3 KB
ID:	13023710
    4. Parabolic Stop and Reverse (Parabolic SAR)

    Indikator yang satu ini sebenarnya cukup populer di kalangan trader tanah air. Sayangnya, masih jarang yang memahami fungsi ekstra yang dimilikinya sebagai salah satu indikator volatilitas.

    Perubahan posisi titik parabolic dari bawah ke atas pada grafik harga mengindikasikan momentum pasar sedang bullish. Sedangkan pindahnya titik parabolic mulai bawah sampai di atas grafik bisa menjadi petunjuk momentum bearish.

    Biasanya trader akan memanfaatkan perpindahan ini sebagai sinyal untuk membuka maupun menutup posisi. Namun, sebenarnya perpindahan tersebut membuat kondisi pasar lebih volatil dibanding periode sebelumnya.

    Hal inilah yang menjadi alasan mengapa beberapa trader memang tidak disarankan untuk membuka posisi dalam kondisi volatil karena risikonya lebih tinggi.


    5. Indikator Momentum (Rate of Change/ROC)


    Indikator momentum yang biasa ditemui di platform MetaTrader biasanya juga disebut sebagai indikator ROC atau Rate of Change.


    Indikator ini akan menganalisa kecepatan pergerakan harga yang terjadi di pasar forex. Tak heran jika Anda bisa menggunakannya sebagai indikator volatilitas. Semakin positif angka yang dihasilkan, maka sinyal buy atau belinya akan semakin kuat.


    Namun, perubahan dari arah positif ke negatif maupun sebaliknya bisa jadi menandakan bahwa terjadi peningkatan momentum dan volatilitas pasar.
    Click image for larger version

Name:	5ROC.jpg
Views:	1
Size:	73.7 KB
ID:	13023711
    Pada dasarnya, volatilitas pasar sendiri bisa menjadi musuh ataupun teman bagi seorang trader. Adapun kunci untuk memahaminya adalah tindakan trader itu sendiri dalam memanfaatkannya untuk mendapatkan profit. Tentunya, dengan risiko loss yang serendah-rendahnya.
    Jika skill yang dibutuhkan sudah cukup mumpuni, kesempatan meraup keuntungan ketika volatilitas tinggi pun semakin terbuka.
  • <a href="https://www.instaforex.org/ru/?x=ruforum">InstaForex</a>
  • #2 Collapse

    pake bollinger band aja, itu udah termasuk indikator bagus untuk menentukan kekuatan tren market, jadi trader tinggal lihat aja bentuk indikator dan kurvanya, sisanya tinggal menunggu signal op pada saat tren baru terbentuk dengan volatilitas market yang cukup aman
    Place your siggy here

    Comment

    Advanced mode

    Online

    Working...
    X