Вход

Log in with

RULES FORUM ~ Wajib dibaca oleh seluruh member Indo.MT5 !

Setiap member forum Indo.MT5 diwajibkan untuk membaca
dan memahami Peraturan yang diberlakukan di forum ini.

Adapun link dari thread-thread yang berisi Peraturan Forum adalah sbb:
  1. Indo MT5 Forum Rules
  2. Peraturan Bonus Posting


Rules untuk thread tertentu secara spesifik:
Sebaiknya member lama juga mengecek kembali thread-thread
yang berisi peraturan tersebut secara berkala, agar tahu jika ada update.

Harap menjadi perhatian seluruh member.

Terima kasih.




Ttd,
Admin & Moderator.
See more
See less
X
 
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts
20
  • #1 Collapse

    Skandal Kripto Gegerkan Dunia, Alasan ICO Selalu Gagal
    Click image for larger version

Name:	infografisusai-cetak-rekor-sekarang-harga-bitcoin-cs-terjun-bebas-ini-penyebabnya-aristya-rahadi.jpg
Views:	1
Size:	38.5 KB
ID:	13021638
    Cryptocurrency memang menggemparkan dunia, mata uang digital yang awalnya hanya dipandang sebelah mata bisa memiliki harga sangat tinggi. Bahkan ini awalnya hanya sebuah alat penukaran saja untuk memudahkan transaksi di tempat kurang menyenangkan seperti Bitcoin yang digunakan daerah perbatasan.

    Tapi lihat apa yang terjadi sekarang ini, hanya karena tokoh dunia menggunakan Bitcoin dan sering kali membahasnya seperti yang dilakukan Elon Musk, harga Bitcoin semakin melambung tinggi. Bahkan kini Ethereum juga menyusul dengan harga gila-gilaan yang sudah jelas tidak masuk akal.

    Pergerakan harga mata uang kripto ini diluar nalar dari pengamat ekonomi. Bagaimana tidak mata uang asing atau forex sudah dianggap sebagai instrumen investasi yang cukup berbahaya dengan pergerakan yang sangat agresif dan tidak boleh luput dari perhatian sedikit, pasalnya perubahan harga terjadi berselang menit saja.

    Lantas apa yang terjadi dengan mata uang kripto, bagaimana pergerakannya? Lebih parah dan sulit diprediksi. Bahkan harga Bitcoin bisa melambung tinggi hingga terpapar ke batas paling bawah hanya dengan beberapa cuitan di akun media sosial Elon Musk di twitter miliknya, sudah jelas ini sangat irasional.

    Bahkan forex saja terpengaruh dengan event, pembicaraan dan bencana alam dengan skala internasional, dampak kecil juga akan terasa saat ini menjadi skala nasional. Tapi ini tidak berlaku untuk Bitcoin, dalam sekejap bisa to the moon atau sebaliknya down to earth, inilah yang membuat pengamat tidak habis pikir.

    Lantas apakah masih worth it investasi mata uang kripto? Tentu saja, ini merupakan instrumen investasi yang bisa hasilkan keuntungan berlimpah dalam kurun waktu singkat saja, investor mana yang akan melewatkan mainan investasi semenarik ini, meskipun bisa jadi akan mengalami kerugian besar.

    Tetapi selalu ada peluang untuk hasilkan keuntungan besar, inilah yang sebaiknya diterapkan dalam investasi. Jika Anda yakin maka bisa menghasilkan keuntungan tapi kalau sudah pesimis di awal, bisa jadi akan menderita kerugian nantinya.

    Ternyata bukan hanya investor saja yang tertarik dengan mata uang kripto, penjahat dunia maya atau peretas memiliki ketertarikan serupa, bukan hanya sekedar iseng saja namun sudah mengarah pada pencurian, pasalnya sudah ada indikasi untuk memperkaya diri sendiri dan pengambilan secara paksa.

    Bahkan para peretas ini menggunakan mata uang kripto sebagai tebusan dari kejahatan virtual yang dilakukan, seperti penguncian akun media sosial hingga upaya pembobolan data base yang dimiliki perusahaan. Kenapa memilih mata uang kripto? Alasannya klise karena harganya tinggi dan transaksi sulit dilacak.

    Bukan hanya peretas yang melancarkan aksinya dengan menggunakan mata uang kripto, tetap banyak transaksi ilegal lainnya yang saja dilakukan dan memerlukan imbalan mata uang kripto, seperti membeli barang ilegal, senjata api, obat-obatan terlarang atau barang-barang yang hanya bisa didapatkan di black market online.

    5 Kasus Kriminal Paling Sering Terjadi Dengan Imbalan Mata Uang Kripto

    Hal ini jelas sangat disayangkan sekali, pasalnya mata uang kripto diciptakan untuk mempermudahan gaya hidup dan memperlancar bisnis tetapi masih ada saja yang menyalahgunakan untuk hal yang bersifat kriminal. Berikut ini aksi kriminal yang melibatkan mata uang kripto.

    1. WannaCry, Serangan Virus Ransomware Paling Mematikan di Dunia

    Serangan brutal yang terjadi pada 2017 lalu ini sempat membuat seluruh dunia lumpuh dan harus menyerah dengan ulah nakal peretas yang meminta bayaran dengan sangat memaksa. Serangan virus ransomware bernama ‘WannaCry’ ini bersifat massive yang menyerang hampir semua komputer yang menggunakan sistem operasi Windows.

    Padahal saat itu, hampir semua komputer di dunia yang terhubung dengan internal menggunakan Windows sebagai sistem operasi utamanya. Peretas melakukan aksinya dengan mengunci beberapa dokumen penting atau akses masuk ke penyimpanan dengan mengalihkan dalam bentuk encrypted atau penguncian.

    Hal ini semakin viral karena peretas meminta tebusan dengan mata uang kripto, Bitcoin. Diprediksi peretas mendapatkan keuntungan hingga 101.000 USD sebagai tebusan, ini dalam bentuk Bitcoin.

    Lebih menyebalkan lagi, virus WannaCry ini menyerang di hampir 150 negara di dunia, bisa jadi negara yang sudah tersambung internet secara menyeluruh. Bahkan ada kabar, jika aksi peretas ini semakin mudah dilakukan karena menggunakan senjata cyber milik intelligent Amerika Serikat, NAS, yang sebelumnya dibobol beberapa waktu lalu.

    Dari 150 negara tersebut, Indonesia juga turut merasakan keganasan dari virus WannaCry, bahkan tidak bisa berbuat banyak selain memberikan tebusan agar semua dokumen bisa dibuka dan digunakan kembali.

    Peretas juga melakukan aksinya secara massive dengan melibatkan banyak pihak sebagai sasaran kejahatan cyber, mulai dari perusahaan khususnya untuk telekomunikasi dan otomotif, dunia perbankan hingga rumah sakit. Inilah yang membuat dunia gaduh seketika dan harus mengikuti kemauan dari peretas.

    2. Kasus Mark Karpeles CEO Mtgox, Penggelapan Uang Perusahaan

    Menjamurnya investor terkait dengan mata uang kripto, membuat Mark Karpeles mendirikan Mt Gox, perusahaan yang menjadi penukar bitcoin yang bermarkas di Jepang. Bahkan Mt Gox mendapatkan sambutan bagus dan sempat menjadi perusahaan cryptocurrency yang disukai di berbagai negara.

    Namun di tahun 2014, dilakukan penangkapan terhadap CEO Mtgox, Mark Karpeles, dimana terbukti menggelapkan dana milik nasabahnya senilai 390 juta USD. Saat itu Mark berkilah dengan dana tersebut, padahal ini digunakan untuk mendanai pengembangkan software miliknya pribadi.

    Bukan hanya membawa lari uang milik nasabah, Mark Karpeles juga melakukan kejahatan dengan tindakan manipulasi data yang ada pada sistem perdagangan Mt Gox, dimana dana milik nasabah akan berbeda dengan milik perusahaan. Padahal patokan utama adalah data milik perusahaan, hal inilah yang membuat nasabahnya marah besar.

    Ulah dari CEO Mtgox ini berdampak besar pada perusahaan dan menyebabkan gulung tikar. Bukan hanya bangkrit, Mt Gox juga masih harus menanggung kerugian sebesar USD 450 juta atau setara dengan Rp6,08 triliun, pasalnya harus mengembalikan dana 850 ribu Bitcoin milik nasabahnya.

    Belum lagi Mt Gox harus menghadapi tuntutan publik yang menganggap perusahaan mata uang kripto ini melakukan langkah pencegahan bahkan menghalang-halangi nasabah yang ingin melakukan penarikan dana. Dalam sekejap Mt Gox hancur dan tidak lagi mendapatkan simpati dan kepercayaan public.

    3. Kasus Skema Ponzi Merugikan Nasabah ala Trendon Shavers

    Penipuan dana nasabah juga terjadi di tahun 2014, kali ini dengan menggunakan Skema Ponzi yang dilakukan Trendon Shavers. Pria asal Amerika Serikat ini memang membuat kadung dengan pengaturan skema ponzi yang diterapkan pada perusahaan bursa Bitcoin miliknya, Bitcoin Saving dan Trust.

    Dimana berani menjanjikan keuntungan bertingkat mulai dari 7 persen pada semua nasabahnya, tentu saja hal ini membuat banyak pihak tertarik. Bahkan angkanya lebih tinggi jika dibandingkan dengan investasi saham. Ini membuat Shavers semakin gencar melancarkan aksinya.

    Hingga pada akhirnya ditangkap pihak kepolisian karena telah menimbulkan kerugian sebanyak 150 juta USD yang didapatkan dari 49 investor utamanya. Shaver juga mengantongi USD 220 ribu bitcoin, ini didapatkan dari investor lainnya yang berasal dari seluruh Amerika Serikat.

    Alih-alih bisa memberikan keuntungan, Shavers memperkaya diri sendiri dengan melakukan gaya hidup mewah dari uang investasi tersebut, mulai dari menyewa apartemen mewah, membiayai keluarganya hidup mewah, membeli mobil dengan cara mencicil hingga melakukan belanja secara berlebihan.

    Kejahatan ini untungnya segera diketahui dan Shavers diamankan oleh pihak kepolisian, dimana dikenakan dua hukuman berat. Dijatuhi denda sebagai ganti rugi sebesar USD 40 juta yang akan dibayarkan pada nasabahnya sebagai hukum anti penipuan dan keamanan,

    Shavers juga tidak bisa menghirup udara bebas selama 20 tahun untuk mempertanggungjawabkan kesalahan tersebut. Hal inilah yang membuat masyarakat dunia takut dengan penerapan skema ekonomi yang bisa hasilkan keuntungan besar dalam waktu singkat saja.

    4. Kasus Silk Road, Jual Beli Obat-Obatan Terlarang

    Dark web memang sering kali menjadi tempat jual beli barang terlarang, salah satunya obat-obatan terlarang untuk dikonsumsi dan diedarkan secara bebas. Namun pengguna internet bisa mendapatkan dengan mudah di situs Silk Road. Awalnya banyak mengira ini adalah situs fashion namun ternyata penyedia barang-barang terlarang.

    Silk Road menjadi platform yang banyak dicari untuk mendapatkan obat-obatan terlarang dengan cepat dan aman. bahkan profitnya saja mencapai USD 1 miliar, dimana transaksi semua dilakukan dengan mata uang kripto, Bitcoin. Inilah yang membuat banyak pihak menentang penggunaan Bitcoin secara bebas.

    Bukan tanpa alasan atau ingin menjatuhkan Bitcoin, mata uang digital ini bukan hanya menawarkan harga yang sangat tinggi, bahkan tidak masuk akal. Perdagangan dilakukan dengan cepat dan mudah, bahkan sulit melakukan pelacakan jenjang transaksi keuangan tersebut, inilah yang terjadi pada kasus Silk Road.

    Hingga pada akhirnya pihak kepolisian dibantu Interpol berhasil menangkap Ross Ulbricht yang diduga merupakan pendiri dan pemilik Silk Road pada Oktober 2013. Bahkan pengadilan memberikan putusan penjara seumur hidup dan menutup dengan paksa situs Silk Road serta memusnahkan semua barang terlarang di dalamnya.

    Ternyata tidak cukup dengan penangkapan Ross Ulbricht, Silk Road masih berjalan hingga akhirnya berhasil mengamankan Hugh Haney, dimana dalam pengakuannya adalah pengguna dari Silk Road yang memiliki user name Pharmviller.

    Hugh Haney baru ditangkap pada Juli 2019, saat mencoba untuk melakukan penukaran Bitcoin miliknya yang mencapai USD 19 juta. Pengakuannya Hugh Haney sudah ikut dalam Silk Road sejak 2012 dan telah berhasil mendapatkan lebih dari 4,000 koin Bitcoin dengan menjual berbagai barang terlarang.

    5. Kasus Sheep Marketplace, Pencurian Bitcoin

    Modus berbeda dilakukan Sheep Marketplace, dimana melakukan pencurian dengan kedok menjual barang-barang yang bisa dibayarkan dengan Bitcoin, hal ini membuat Sheep Market memiliki akses untuk tahu akun dari pemilik Bitcoin tersebut.

    Dimana melakukan aksi pencurian secara bertahap sehingga tidak disadari oleh pemiliknya, namun ini dilakukan terus menerus dan lambat laun membuat akun Bitcoin terkuras sepenuhnya. Awalnya ini berjalan mulus karena tidak ada pelaporan, namun kasus serupa terjadi terus menerus hingga masuk ke pihak kepolisian Republik Cekoslovakia.

    Akhitnya membuat Tomas Jirikonvsky harus mempertangungjawabkan perbuatannya, dimana didakwa telah melakukan pencurian jutaan dolar milik pelanggannya yang dilakukan dengan cara menyedot dari akun Bitcoin milik korbannya.

    Sebenarnya masih banyak lagi kasus terlarang yang terjadi akibat penggunaan Bitcoin, mata uang kripto ini dianggap memberikan kemudahan akses untuk kejahatan merajalela. Dimana pelakunya bisa berbuat sesuka hati dan mendapatkan imbalan tinggi dalam bentuk Bitcoin, inilah yang membuat banyak pemimpin dunia merasa jengah.

    Kekacauan Dalam ICO Mata Uang Kripto

    Tinggalkan sejenak dengan kejahatan yang dilakukan berkedok Bitcoin, kali ini melihat apa yang terjadi dalam internal mata uang kripto itu sendiri. Familiar dengan Inintial Coins Offering atau banyak dikenal dengan ICO, ini merupakan cara pengembang untuk menerbitkan sejumlah token dengan harga maksimal.

    Namun hal ini selalu menemukan jalan buntu, pasalnya mereka lupa dengan tiga pilar utama untuk mengembangkan dan memiliki sebuah token, yaitu Cry To Economics, Utilitas dan Keamanan. Jika ketiganya tidak tercapai, maka ICO terancam gagal atau tidak sesuai dengan ekspektasi.

    1. Cry To Economics (Kripto Ekonomi)

    Ada fakta lucu di balik pengembangan ICO dalam pilar pertama ini, pengembang harusnya mengembangkan token sesuai dengan Kripto Ekonomi, dimana terdapat dua unsur yaitu kriptografi dan ekonomi. Padahal hanya unsur kriptografi saja yang ditonjolkan tanpa melihat sisi ekonominya.

    Jelas saja ini tidak akan memberikan pengaruh besar, pasalnya sisi ekonominya atau value tidak tersedia. Token bertujuan untuk perdagangan dan investasi, jika tidak ada unsur ekonomi tentu saja membuat investor tidak tertarik dan memilih investasi lainnya yang memberikan keunggulan lainnya.

    Padahal untuk membuat hasil ICO bisa bertahan lama, pengembang harus bisa menonjolkan kedua sisi tersebut. Bukan hanya sibuk pengatur rancangan kriptografi saja, memang benar ini ditujukan pada pasar khusus yang mengerti token kripto, namun kini masyarakat luas juga mengerti kripto untuk mencetak investasi tersendiri.

    Bahkan ada IPO yang paling menguntungkan, dimana pengembang hanya mengajukan proposal dalam bentuk whitepaper, ternyata konsep ini banyak disukai publik dan mendapatkan sambutan bagus. Tetapi publik juga terkadang suka dengan kriptografi namun tidak terlalu rumit, ini akan memancing kegagalan saja.

    2. Utilitas

    Pengembang juga seringkali menganggap remeh dengan bukti otentik pada token itu sendiri, padahal inilah yang membedakan token dengan koin kripto, token bisa terlihat bentuknya sedangkan koin kripto tidak perlu ada bukti fisik, dimana token merupakan cikal bakal adanya koin kripto.

    Sayangnya penggunaan token kini mulai ditinggalkan, pasalnya aksesnya terbatas dan tidak bisa dinikmati semua negara. Aksesnya juga terbatas pada perusahaan tertentu, dimana Anda harus membeli token kembali di tempat lain untuk melakukan transaksi.

    Token memang jadi mata uang lokal yang hanya digunakan dalam satu project saja, jika project tersebut telah usai maka token tidak lagi berlaku dan memiliki value lagi. Ada baiknya pengembang mengembalikan fungsi utama token, yaitu untuk perdagangan dan memperlihatkan kriptografinya.

    3. Keamanan

    Sudah pasti, keamanan yang dimiliki koin kripto lebih tinggi, inilah yang membuat penambangan koin kripto lebih lama. Hal inilah yang membuat token menjadi alternatif tersendiri, pasalnya pencetakan lebih cepat karena tidak dilengkapi dengan sederet kode-kode sebagai pengamanan.

    Hal ini membuat token menjadi hal yang paling rentan di curi dalam kejahatan cyber. Bahkan tercatat lebih dari 30 ribu orang telah mengalami kejahatan serupa terkait dengan pencurian kripto miliknya dalam bentuk token. Kerugian saat itu diperkirakan mencapai USD 7,5000, ini hanya korban yang telah melaporkan pada pihak berwajib saja.

    Bahkan terdapat catatan kelam akibat keamanan yang tidak terlalu kuat, sepanjang 2017 telah terjadi kerugian akibat kejahatan penipuan ICO dengan total kerugian mencapai USD 1,6 miliar. Jelas ini bukan angka yang kecil, pasalnya ini akan menyangkut semua orang yang ada di dunia.

    Masih banyak lagi kejahatan di dunia maya yang terjadi akibat mata uang kripto, ini bukan hanya pada token kripto yang memang rentan peretasan karena tidak memiliki keamanan mumpuni, hal ini juga terjadi pada koin kripto yang memiliki enkripsi untuk perlindungan. Bahkan banyak kejahatan terjadi gara-gara koin kripto seperti Bitcoin.
  • <a href="https://www.instaforex.org/id/?x=ruforum">InstaForex</a>
  • #2 Collapse

    kalo ngak ada negara mana pun yang bisa jamin, trus mudah dimanipulasi dan ngak terjangkau regulasi moneter bank sentral, udah pasti matauang kripto pada akhirnya cuman spekulasi dowang, selama kepercayaan masih kuat ya masih jalan, kalo orang2 udah ragu maka pasti tidak akan bernilai lagi

    Comment

    Advanced mode

    Online

    Working...
    X