Вход

Log in with

RULES FORUM ~ Wajib dibaca oleh seluruh member Indo.MT5 !

Setiap member forum Indo.MT5 diwajibkan untuk membaca
dan memahami Peraturan yang diberlakukan di forum ini.

Adapun link dari thread-thread yang berisi Peraturan Forum adalah sbb:
  1. Indo MT5 Forum Rules
  2. Peraturan Bonus Posting


Rules untuk thread tertentu secara spesifik:
Sebaiknya member lama juga mengecek kembali thread-thread
yang berisi peraturan tersebut secara berkala, agar tahu jika ada update.

Harap menjadi perhatian seluruh member.

Terima kasih.




Ttd,
Admin & Moderator.
See more
See less
X
 
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts
20
  • #1 Collapse

    Jenis Indikator yang Jarang Trader Tahu, Sekarang Wajib Tahu
    Indikator trading merupakan topik yang harus dikuasai para trader. Pasalnya, pemahaman atas indikator dapat mempermudah trader dalam melakukan penutupan. Sebaliknya, ketidaktahuan atas indikator menyulitkan trader dalam melakukan aksi trading apapun.
    Berbicara tentang indikator, sebenarnya apa makna istilah ini? Indikator adalah alat utama trader dalam menganalisis tren serta menetapkan bagaimana arah harga di masa yang akan datang. Dengan kata lain, trader forex bisa mendapatkan gambaran mengenai pasar berikutnya sehingga membantu trader menetapkan posisi open.

    Sifat indikator berbeda dengan faktor fundamental. Apabila faktor fundamental diperoleh dari berita ekonomi dan politik, maka indikator merupakan dasar dari analisa teknikal, yang mana menentukan arah pergerakan harga secara akurat.

    Biar pemahaman atas indikator lebih jelas, Anda bisa membayangkan sebuah grafik harga. Setelah grafik tergambar dengan jelas, tidak sedikit dari Anda yang kebingungan dalam menerjemahkan grafik harga. Di sinilah indikator hadir, untuk mempermudah penyederhanaan grafik sehingga trader bisa mengidentifikasi tren secara tepat.

    Sesungguhnya, sudah banyak macam indikator teknis yang tersedia. Mulai dari Moving Average Convergence Divergence (MACD), Bollinger Bands, hingga Scalping Trading. Disebabkan dengan banyaknya jumlah indikator, mayoritas trader kesulitan dalam menentukan indikator yang tepat untuk dirinya.

    Padahal, ada beberapa indikator yang kurang dikenal publik trader secara luas, namun memiliki fungsi yang sangat kentara. Penerapan indikator-indikator ini mampu menciptakan perbedaan signifikan. Berikut beberapa indikator trading yang jarang trader tahu, yaitu Indikator ATR, Indikator Saluran Komoditas (CCI), dan Momentum.

    1. Indikator ATR

    Click image for larger version

Name:	3-pola-chart-terbaik-untuk-trading-forex-287435-27332.jpg
Views:	1
Size:	22.9 KB
ID:	13020475
    Indikator Average True Range atau yang biasa disingkat menjadi indikator ATR, adalah pengukur volatilitas harga terendah dan tertinggi sebelumnya secara mutlak. Meskipun pada mulanya indikator ATR diciptakan untuk komoditas, kini banyak pula digunakan untuk ETF, mata uang, dan saham.

    Pengaturan ATR dapat dilakukan untuk 14-periode dengan penggunaan harian. Menyambung sebelumnya, ATR dapat mempunyai nilai lebih tinggi pada instrumen yang merespon aktif pergerakan harga yang luas. Sebaliknya, ATR memiliki nilai lebih rendah apabila hampir semua harga mengarah ke samping.

    Selain itu, ATR dapat difungsikan sebagai konfirmator pembalikan bearish atau bullish. Nilai ini, kemudian difungsikan sebagai sinyal konfirmasi, lantaran memperlihatkan momentum yang meningkat, entah itu dari posisi pendek atau panjang.

    Misalnya, pada suatu grafik trading forex terpampang jelas indikator ATR untuk pasangan GBP/USD. Mengingat ia tak lain indikator volatilitas, maka tidak ada informasi arah harga yang terlihat. Maka, indikator ATR dapat difungsikan untuk menilai evolusi volatilitas dari pasangan mata uang.

    Ini bisa berguna dalam menetapkan peluang pembalikan. Apalagi dengan pembacaan ATR yang tinggi, ini bisa diiringi dengan pembalikkan, lantaran momentum memperkokoh fondasi analisis. Namun, trader perlu melakukan sinyal tambahan untuk memvalidasi pembalikkan.

    Di samping itu, ATR bisa digunakan untuk menilai level keluar yang dibutuhkan dalam kejadian volatilitasnya. Level keluar dapat digambarkan dengan rasio volatilitas, di mana variabel ini dihitung dari perbandingan ATR saat ini dengan harga kini.

    Apabila rasio volatilitas menunjukkan angka yang tinggi, maka stop-loss lebih banyak dibutuhkan, lantaran harga membuat pergerakan turun dan naik yang lebih besar. Rasio ini digunakan lantaran sangat berdampak pada nilai ATR sehingga perbandingan ATR antara harga berbeda dengan instrumen semakin sempit.

    1. Indikator Momentum

    Click image for larger version

Name:	apa-yang-dimaksud-dengan-indikator-286371-2510.jpg
Views:	1
Size:	112.0 KB
ID:	13020476
    Indikator ini merupakan indikator teknis sederhana yang membandingkan harga penutupan sekarang dengan harga penutupan sebelumnya. Dengan kata lain, indikator momentum memperlihatkan keterkaitan harga trading sekarang harga pada sesi sebelumnya.

    Ini membuat indikator momentum sangat bermanfaat bagi trader dan analis. Pasalnya, mereka membutuhkan ini untuk menemukan posisi titik pasar dapat berbalik. Poin-poin itu dikenali melalui penyebaran yang terjadi antara momentum dan pergerakan.

    Adapun penyebaran adalah suatu kondisi ketika mata harga terus bergerak ke bawah, mengiringi indikator momentum kuat, namun kemudian indikator momentum berbalik arah menjadi naik. Tidak mengikuti arah turun mata harga. Hal ini menunjukkan kalau indikator mengalami penyimpangan dan kegagalan.

    Mengingat indikator momentum cenderung bersifat relatif dari pergerakan harga, tetapi mengabaikan arah pergerakan harga, indikator tersebut paling bagus digunakan dalam kombinasi dengan indikator teknis lainnya seperti garis tren dan moving rate yang memperlihatkan tren dan arah harga.

    Anda dapat melihat harga penutupan sebelumnya dengan pengaturan indikator. Misalnya, indikator momentum 10 periode mengomparasi harga penutupan sekarang dengan harga penutupan 10 periode sebelumnya. Apabila harga penutupan periode sekarang lebih tinggi dari periode-n sebelumnya, maka indikator bernilai positif. Begitu juga sebaliknya.

    Anda harus mengetahui bahwa ada dua versi indikator momentum. Versi pertama memperlihatkan harga penutupan secara mutlak, sementara versi kedua memperlihatkan perbedaan dalam bentuk persentase.

    Misalnya, ada suatu grafik yang memperlihat indikator momentum buat pasangan GBP/USD, sebagaimana contoh pada indikator ATR. Alhasil, trader bisa mengomparasi perbedaan nilai indikator. Pengaturan indikator dapat dilakukan untuk harga penutupan sekarang dengan harga penutupan 10 hari sebelumnya.

    Perlu dicatat bahwa, apabila harga penutupan sekarang lebih tinggi daripada harga penutupan periode-n yang lalu, maka indikator momentum bakal berubah posisi di atas garis nol. Sebaliknya, jika harga penutupan sekarang lebih rendah dari harga penutupan periode-n sebelumnya, maka indikator akan bergerak di bawah garis nol.

    Anda bisa menerapkan strategi trading sederhana berbasis indikator momentum dengan cara menyilangkan garis nol. Persilangan di atas garis nol diasumsikan sebagai sinyal beli, sementara persilangan di bawah garis nol diasumsikan sebagai sinyal jual.

    Pada umumnya, pergerakan harga terjadi saat indikator melewati garis nol. Di saat-saat seperti ini, sinyal palsu bakal sering muncul. Kelemahan ini dapat dicegah dengan cara menambahkan rata-rata berpindah posisi dari indikator dan melakukan buy ketika indikator menembus MA dari bawah, dan menjualnya ketika indikator menembus dari atas.

    1. Indikator CCI

    Click image for larger version

Name:	apa-yang-dimaksud-dengan-indikator-286371-38317.jpg
Views:	1
Size:	112.7 KB
ID:	13020477
    Indikator CCI atau Commodity Channel Index, adalah indikator isolasi yang ditemukan oleh Donald Lambert pada tahun 1980an. Indikator ini berfungsi untuk mengukur penyimpangan harga sekuritas terhadap deviasi normal rata-rata bergerak dan moving average.

    Meskipun namanya menyempit ke komoditas, indikator CCI sukses dipakai dengan jenis-jenis keamanan seperti indeks, mata uang, dan saham. Mengingat pengukuran harga sekarang bergantung pada rata-rata pergerakan harga, nilai CCI meningkat saat harga sangat lebih di atas rata-rata, dan menurun ketika harga sangat di bawah rata-rata.

    Misalnya, ada sebuah grafik dimana indikator CCI diposisikan di bawah grafik harian GBP/USD. Grafik ini memakai periode 20 hari, dengan periode umum dipakai dengan CCI. Dengan kata lain, tiap perhitungan baru mengacu pada 20 hari terakhir buat mengkalkulasi harga rata-rata pasangan.

    Sebagai catatan, indikator CCI juga menggunakan periode-periode lainnya, yaitu 30 dan 40, di mana keduanya menghasilkan indikator yang konstan terhadap deviasi harga. Adapun nilai CCI semakin jarang bergerak keluar +100 dan -100 apabila periode semakin besar.

    Anda bisa mengamati bagaimana CCI tidak mudah goyah saat ada di antara -100 dan +100 pada grafik. Dengan konstanta 0,015 dalam kalkulasi CCI, Lambert mengonfirmasi indikator tetap berada di antara kisaran ni selama 75% dari total waktu. Nilai lebih rendah dari -100 dan lebih tinggi dari +100, berarti pasar sedang mengalami pelemahan atau penguatan.

    Itu dia beberapa jenis indikator yang jarang trader tahu. Bagaimana? Apakah Anda sudah memahami masing-masing indikator? Dan siap untuk mempraktikkan indikator di sesi trading terdekat? Jika Anda memiliki jenis indikator yang memang wajib digunakan, bisa langsung gunakan dengan pertimbangan yang matang.
  • <a href="https://www.instaforex.org/id/?x=ruforum">InstaForex</a>
  • #2 Collapse

    Originally posted by Desty Ana View Post
    Indikator trading merupakan topik yang harus dikuasai para trader. Pasalnya, pemahaman atas indikator dapat mempermudah trader dalam melakukan penutupan. Sebaliknya, ketidaktahuan atas indikator menyulitkan trader dalam melakukan aksi trading apapun.
    Berbicara tentang indikator, sebenarnya apa makna istilah ini? Indikator adalah alat utama trader dalam menganalisis tren serta menetapkan bagaimana arah harga di masa yang akan datang. Dengan kata lain, trader forex bisa mendapatkan gambaran mengenai pasar berikutnya sehingga membantu trader menetapkan posisi open.

    Sifat indikator berbeda dengan faktor fundamental. Apabila faktor fundamental diperoleh dari berita ekonomi dan politik, maka indikator merupakan dasar dari analisa teknikal, yang mana menentukan arah pergerakan harga secara akurat.

    Biar pemahaman atas indikator lebih jelas, Anda bisa membayangkan sebuah grafik harga. Setelah grafik tergambar dengan jelas, tidak sedikit dari Anda yang kebingungan dalam menerjemahkan grafik harga. Di sinilah indikator hadir, untuk mempermudah penyederhanaan grafik sehingga trader bisa mengidentifikasi tren secara tepat.

    Sesungguhnya, sudah banyak macam indikator teknis yang tersedia. Mulai dari Moving Average Convergence Divergence (MACD), Bollinger Bands, hingga Scalping Trading. Disebabkan dengan banyaknya jumlah indikator, mayoritas trader kesulitan dalam menentukan indikator yang tepat untuk dirinya.

    Padahal, ada beberapa indikator yang kurang dikenal publik trader secara luas, namun memiliki fungsi yang sangat kentara. Penerapan indikator-indikator ini mampu menciptakan perbedaan signifikan. Berikut beberapa indikator trading yang jarang trader tahu, yaitu Indikator ATR, Indikator Saluran Komoditas (CCI), dan Momentum.

    1. Indikator ATR

    [ATTACH]441278[/ATTACH]
    Indikator Average True Range atau yang biasa disingkat menjadi indikator ATR, adalah pengukur volatilitas harga terendah dan tertinggi sebelumnya secara mutlak. Meskipun pada mulanya indikator ATR diciptakan untuk komoditas, kini banyak pula digunakan untuk ETF, mata uang, dan saham.

    Pengaturan ATR dapat dilakukan untuk 14-periode dengan penggunaan harian. Menyambung sebelumnya, ATR dapat mempunyai nilai lebih tinggi pada instrumen yang merespon aktif pergerakan harga yang luas. Sebaliknya, ATR memiliki nilai lebih rendah apabila hampir semua harga mengarah ke samping.

    Selain itu, ATR dapat difungsikan sebagai konfirmator pembalikan bearish atau bullish. Nilai ini, kemudian difungsikan sebagai sinyal konfirmasi, lantaran memperlihatkan momentum yang meningkat, entah itu dari posisi pendek atau panjang.

    Misalnya, pada suatu grafik trading forex terpampang jelas indikator ATR untuk pasangan GBP/USD. Mengingat ia tak lain indikator volatilitas, maka tidak ada informasi arah harga yang terlihat. Maka, indikator ATR dapat difungsikan untuk menilai evolusi volatilitas dari pasangan mata uang.

    Ini bisa berguna dalam menetapkan peluang pembalikan. Apalagi dengan pembacaan ATR yang tinggi, ini bisa diiringi dengan pembalikkan, lantaran momentum memperkokoh fondasi analisis. Namun, trader perlu melakukan sinyal tambahan untuk memvalidasi pembalikkan.

    Di samping itu, ATR bisa digunakan untuk menilai level keluar yang dibutuhkan dalam kejadian volatilitasnya. Level keluar dapat digambarkan dengan rasio volatilitas, di mana variabel ini dihitung dari perbandingan ATR saat ini dengan harga kini.

    Apabila rasio volatilitas menunjukkan angka yang tinggi, maka stop-loss lebih banyak dibutuhkan, lantaran harga membuat pergerakan turun dan naik yang lebih besar. Rasio ini digunakan lantaran sangat berdampak pada nilai ATR sehingga perbandingan ATR antara harga berbeda dengan instrumen semakin sempit.

    1. Indikator Momentum

    [ATTACH]441279[/ATTACH]
    Indikator ini merupakan indikator teknis sederhana yang membandingkan harga penutupan sekarang dengan harga penutupan sebelumnya. Dengan kata lain, indikator momentum memperlihatkan keterkaitan harga trading sekarang harga pada sesi sebelumnya.

    Ini membuat indikator momentum sangat bermanfaat bagi trader dan analis. Pasalnya, mereka membutuhkan ini untuk menemukan posisi titik pasar dapat berbalik. Poin-poin itu dikenali melalui penyebaran yang terjadi antara momentum dan pergerakan.

    Adapun penyebaran adalah suatu kondisi ketika mata harga terus bergerak ke bawah, mengiringi indikator momentum kuat, namun kemudian indikator momentum berbalik arah menjadi naik. Tidak mengikuti arah turun mata harga. Hal ini menunjukkan kalau indikator mengalami penyimpangan dan kegagalan.

    Mengingat indikator momentum cenderung bersifat relatif dari pergerakan harga, tetapi mengabaikan arah pergerakan harga, indikator tersebut paling bagus digunakan dalam kombinasi dengan indikator teknis lainnya seperti garis tren dan moving rate yang memperlihatkan tren dan arah harga.

    Anda dapat melihat harga penutupan sebelumnya dengan pengaturan indikator. Misalnya, indikator momentum 10 periode mengomparasi harga penutupan sekarang dengan harga penutupan 10 periode sebelumnya. Apabila harga penutupan periode sekarang lebih tinggi dari periode-n sebelumnya, maka indikator bernilai positif. Begitu juga sebaliknya.

    Anda harus mengetahui bahwa ada dua versi indikator momentum. Versi pertama memperlihatkan harga penutupan secara mutlak, sementara versi kedua memperlihatkan perbedaan dalam bentuk persentase.

    Misalnya, ada suatu grafik yang memperlihat indikator momentum buat pasangan GBP/USD, sebagaimana contoh pada indikator ATR. Alhasil, trader bisa mengomparasi perbedaan nilai indikator. Pengaturan indikator dapat dilakukan untuk harga penutupan sekarang dengan harga penutupan 10 hari sebelumnya.

    Perlu dicatat bahwa, apabila harga penutupan sekarang lebih tinggi daripada harga penutupan periode-n yang lalu, maka indikator momentum bakal berubah posisi di atas garis nol. Sebaliknya, jika harga penutupan sekarang lebih rendah dari harga penutupan periode-n sebelumnya, maka indikator akan bergerak di bawah garis nol.

    Anda bisa menerapkan strategi trading sederhana berbasis indikator momentum dengan cara menyilangkan garis nol. Persilangan di atas garis nol diasumsikan sebagai sinyal beli, sementara persilangan di bawah garis nol diasumsikan sebagai sinyal jual.

    Pada umumnya, pergerakan harga terjadi saat indikator melewati garis nol. Di saat-saat seperti ini, sinyal palsu bakal sering muncul. Kelemahan ini dapat dicegah dengan cara menambahkan rata-rata berpindah posisi dari indikator dan melakukan buy ketika indikator menembus MA dari bawah, dan menjualnya ketika indikator menembus dari atas.

    1. Indikator CCI

    [ATTACH]441280[/ATTACH]
    Indikator CCI atau Commodity Channel Index, adalah indikator isolasi yang ditemukan oleh Donald Lambert pada tahun 1980an. Indikator ini berfungsi untuk mengukur penyimpangan harga sekuritas terhadap deviasi normal rata-rata bergerak dan moving average.

    Meskipun namanya menyempit ke komoditas, indikator CCI sukses dipakai dengan jenis-jenis keamanan seperti indeks, mata uang, dan saham. Mengingat pengukuran harga sekarang bergantung pada rata-rata pergerakan harga, nilai CCI meningkat saat harga sangat lebih di atas rata-rata, dan menurun ketika harga sangat di bawah rata-rata.

    Misalnya, ada sebuah grafik dimana indikator CCI diposisikan di bawah grafik harian GBP/USD. Grafik ini memakai periode 20 hari, dengan periode umum dipakai dengan CCI. Dengan kata lain, tiap perhitungan baru mengacu pada 20 hari terakhir buat mengkalkulasi harga rata-rata pasangan.

    Sebagai catatan, indikator CCI juga menggunakan periode-periode lainnya, yaitu 30 dan 40, di mana keduanya menghasilkan indikator yang konstan terhadap deviasi harga. Adapun nilai CCI semakin jarang bergerak keluar +100 dan -100 apabila periode semakin besar.

    Anda bisa mengamati bagaimana CCI tidak mudah goyah saat ada di antara -100 dan +100 pada grafik. Dengan konstanta 0,015 dalam kalkulasi CCI, Lambert mengonfirmasi indikator tetap berada di antara kisaran ni selama 75% dari total waktu. Nilai lebih rendah dari -100 dan lebih tinggi dari +100, berarti pasar sedang mengalami pelemahan atau penguatan.

    Itu dia beberapa jenis indikator yang jarang trader tahu. Bagaimana? Apakah Anda sudah memahami masing-masing indikator? Dan siap untuk mempraktikkan indikator di sesi trading terdekat? Jika Anda memiliki jenis indikator yang memang wajib digunakan, bisa langsung gunakan dengan pertimbangan yang matang.
    Sebenarnya indikatornya ini memang kurang populer karena jaranga trader yang mengetahui dan juga memahami bagaimana menggunakanya ,CCI & momentum termasuk indikator yang sedikit susah walau dengan akurasi rata rata di atas 65% tapi itu sangat sulit untuk diulikk makanya kenapa kurang terkenal indikator diatas

    Comment

    Advanced mode
    • #3 Collapse

      Originally posted by Desty Ana View Post
      Indikator trading merupakan topik yang harus dikuasai para trader. Pasalnya, pemahaman atas indikator dapat mempermudah trader dalam melakukan penutupan. Sebaliknya, ketidaktahuan atas indikator menyulitkan trader dalam melakukan aksi trading apapun.
      Berbicara tentang indikator, sebenarnya apa makna istilah ini? Indikator adalah alat utama trader dalam menganalisis tren serta menetapkan bagaimana arah harga di masa yang akan datang. Dengan kata lain, trader forex bisa mendapatkan gambaran mengenai pasar berikutnya sehingga membantu trader menetapkan posisi open.

      Sifat indikator berbeda dengan faktor fundamental. Apabila faktor fundamental diperoleh dari berita ekonomi dan politik, maka indikator merupakan dasar dari analisa teknikal, yang mana menentukan arah pergerakan harga secara akurat.

      Biar pemahaman atas indikator lebih jelas, Anda bisa membayangkan sebuah grafik harga. Setelah grafik tergambar dengan jelas, tidak sedikit dari Anda yang kebingungan dalam menerjemahkan grafik harga. Di sinilah indikator hadir, untuk mempermudah penyederhanaan grafik sehingga trader bisa mengidentifikasi tren secara tepat.

      Sesungguhnya, sudah banyak macam indikator teknis yang tersedia. Mulai dari Moving Average Convergence Divergence (MACD), Bollinger Bands, hingga Scalping Trading. Disebabkan dengan banyaknya jumlah indikator, mayoritas trader kesulitan dalam menentukan indikator yang tepat untuk dirinya.

      Padahal, ada beberapa indikator yang kurang dikenal publik trader secara luas, namun memiliki fungsi yang sangat kentara. Penerapan indikator-indikator ini mampu menciptakan perbedaan signifikan. Berikut beberapa indikator trading yang jarang trader tahu, yaitu Indikator ATR, Indikator Saluran Komoditas (CCI), dan Momentum.

      1. Indikator ATR

      [ATTACH]441278[/ATTACH]
      Indikator Average True Range atau yang biasa disingkat menjadi indikator ATR, adalah pengukur volatilitas harga terendah dan tertinggi sebelumnya secara mutlak. Meskipun pada mulanya indikator ATR diciptakan untuk komoditas, kini banyak pula digunakan untuk ETF, mata uang, dan saham.

      Pengaturan ATR dapat dilakukan untuk 14-periode dengan penggunaan harian. Menyambung sebelumnya, ATR dapat mempunyai nilai lebih tinggi pada instrumen yang merespon aktif pergerakan harga yang luas. Sebaliknya, ATR memiliki nilai lebih rendah apabila hampir semua harga mengarah ke samping.

      Selain itu, ATR dapat difungsikan sebagai konfirmator pembalikan bearish atau bullish. Nilai ini, kemudian difungsikan sebagai sinyal konfirmasi, lantaran memperlihatkan momentum yang meningkat, entah itu dari posisi pendek atau panjang.

      Misalnya, pada suatu grafik trading forex terpampang jelas indikator ATR untuk pasangan GBP/USD. Mengingat ia tak lain indikator volatilitas, maka tidak ada informasi arah harga yang terlihat. Maka, indikator ATR dapat difungsikan untuk menilai evolusi volatilitas dari pasangan mata uang.

      Ini bisa berguna dalam menetapkan peluang pembalikan. Apalagi dengan pembacaan ATR yang tinggi, ini bisa diiringi dengan pembalikkan, lantaran momentum memperkokoh fondasi analisis. Namun, trader perlu melakukan sinyal tambahan untuk memvalidasi pembalikkan.

      Di samping itu, ATR bisa digunakan untuk menilai level keluar yang dibutuhkan dalam kejadian volatilitasnya. Level keluar dapat digambarkan dengan rasio volatilitas, di mana variabel ini dihitung dari perbandingan ATR saat ini dengan harga kini.

      Apabila rasio volatilitas menunjukkan angka yang tinggi, maka stop-loss lebih banyak dibutuhkan, lantaran harga membuat pergerakan turun dan naik yang lebih besar. Rasio ini digunakan lantaran sangat berdampak pada nilai ATR sehingga perbandingan ATR antara harga berbeda dengan instrumen semakin sempit.

      1. Indikator Momentum

      [ATTACH]441279[/ATTACH]
      Indikator ini merupakan indikator teknis sederhana yang membandingkan harga penutupan sekarang dengan harga penutupan sebelumnya. Dengan kata lain, indikator momentum memperlihatkan keterkaitan harga trading sekarang harga pada sesi sebelumnya.

      Ini membuat indikator momentum sangat bermanfaat bagi trader dan analis. Pasalnya, mereka membutuhkan ini untuk menemukan posisi titik pasar dapat berbalik. Poin-poin itu dikenali melalui penyebaran yang terjadi antara momentum dan pergerakan.

      Adapun penyebaran adalah suatu kondisi ketika mata harga terus bergerak ke bawah, mengiringi indikator momentum kuat, namun kemudian indikator momentum berbalik arah menjadi naik. Tidak mengikuti arah turun mata harga. Hal ini menunjukkan kalau indikator mengalami penyimpangan dan kegagalan.

      Mengingat indikator momentum cenderung bersifat relatif dari pergerakan harga, tetapi mengabaikan arah pergerakan harga, indikator tersebut paling bagus digunakan dalam kombinasi dengan indikator teknis lainnya seperti garis tren dan moving rate yang memperlihatkan tren dan arah harga.

      Anda dapat melihat harga penutupan sebelumnya dengan pengaturan indikator. Misalnya, indikator momentum 10 periode mengomparasi harga penutupan sekarang dengan harga penutupan 10 periode sebelumnya. Apabila harga penutupan periode sekarang lebih tinggi dari periode-n sebelumnya, maka indikator bernilai positif. Begitu juga sebaliknya.

      Anda harus mengetahui bahwa ada dua versi indikator momentum. Versi pertama memperlihatkan harga penutupan secara mutlak, sementara versi kedua memperlihatkan perbedaan dalam bentuk persentase.

      Misalnya, ada suatu grafik yang memperlihat indikator momentum buat pasangan GBP/USD, sebagaimana contoh pada indikator ATR. Alhasil, trader bisa mengomparasi perbedaan nilai indikator. Pengaturan indikator dapat dilakukan untuk harga penutupan sekarang dengan harga penutupan 10 hari sebelumnya.

      Perlu dicatat bahwa, apabila harga penutupan sekarang lebih tinggi daripada harga penutupan periode-n yang lalu, maka indikator momentum bakal berubah posisi di atas garis nol. Sebaliknya, jika harga penutupan sekarang lebih rendah dari harga penutupan periode-n sebelumnya, maka indikator akan bergerak di bawah garis nol.

      Anda bisa menerapkan strategi trading sederhana berbasis indikator momentum dengan cara menyilangkan garis nol. Persilangan di atas garis nol diasumsikan sebagai sinyal beli, sementara persilangan di bawah garis nol diasumsikan sebagai sinyal jual.

      Pada umumnya, pergerakan harga terjadi saat indikator melewati garis nol. Di saat-saat seperti ini, sinyal palsu bakal sering muncul. Kelemahan ini dapat dicegah dengan cara menambahkan rata-rata berpindah posisi dari indikator dan melakukan buy ketika indikator menembus MA dari bawah, dan menjualnya ketika indikator menembus dari atas.

      1. Indikator CCI

      [ATTACH]441280[/ATTACH]
      Indikator CCI atau Commodity Channel Index, adalah indikator isolasi yang ditemukan oleh Donald Lambert pada tahun 1980an. Indikator ini berfungsi untuk mengukur penyimpangan harga sekuritas terhadap deviasi normal rata-rata bergerak dan moving average.

      Meskipun namanya menyempit ke komoditas, indikator CCI sukses dipakai dengan jenis-jenis keamanan seperti indeks, mata uang, dan saham. Mengingat pengukuran harga sekarang bergantung pada rata-rata pergerakan harga, nilai CCI meningkat saat harga sangat lebih di atas rata-rata, dan menurun ketika harga sangat di bawah rata-rata.

      Misalnya, ada sebuah grafik dimana indikator CCI diposisikan di bawah grafik harian GBP/USD. Grafik ini memakai periode 20 hari, dengan periode umum dipakai dengan CCI. Dengan kata lain, tiap perhitungan baru mengacu pada 20 hari terakhir buat mengkalkulasi harga rata-rata pasangan.

      Sebagai catatan, indikator CCI juga menggunakan periode-periode lainnya, yaitu 30 dan 40, di mana keduanya menghasilkan indikator yang konstan terhadap deviasi harga. Adapun nilai CCI semakin jarang bergerak keluar +100 dan -100 apabila periode semakin besar.

      Anda bisa mengamati bagaimana CCI tidak mudah goyah saat ada di antara -100 dan +100 pada grafik. Dengan konstanta 0,015 dalam kalkulasi CCI, Lambert mengonfirmasi indikator tetap berada di antara kisaran ni selama 75% dari total waktu. Nilai lebih rendah dari -100 dan lebih tinggi dari +100, berarti pasar sedang mengalami pelemahan atau penguatan.

      Itu dia beberapa jenis indikator yang jarang trader tahu. Bagaimana? Apakah Anda sudah memahami masing-masing indikator? Dan siap untuk mempraktikkan indikator di sesi trading terdekat? Jika Anda memiliki jenis indikator yang memang wajib digunakan, bisa langsung gunakan dengan pertimbangan yang matang.
      Salam Sukses Sobat Trader , saya sangat berterima kasih atas postingan indikator yang jarang orang tau , barangkali bisa lebih mendapatkan keakuratan maksimal

      Comment

      Advanced mode
      • <a href="https://www.instaforex.org/id/?x=ruforum">InstaForex</a>
      • #4 Collapse

        setau gw indikator oscilator kayak CCI itu cuman pemanis aja di chart analisa, secara teknik banyak false signalnya, jadi ngak cocok untuk trading jangka panjang apalagi kalau marketnya bergerak terlalu cepat atau ada whipsaw

        Comment

        Advanced mode

        Online

        Working...
        X