Reply to Thread
Page 1 of 5
1 2 3 ... LastLast
Results 1 to 10 of 41

Thread: [Siraman Rohani] Kisah Keteladanan Para Nabi, Sahabat Nabi, dan Wali Songo

  1. #1
    Forum Resident
     Jatuh Cinta
     
    adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jogja
    Posts
    6,146
    Accumulated bonus
    753.65 USD (What is this?)
    Murid Perempuan
    2 (What is this?)
    Thanks
    671
    Thanked 681 Times in 538 Posts

    [Siraman Rohani] Kisah Keteladanan Para Nabi, Sahabat Nabi, dan Wali Songo

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Permisi om Administrator, om/mbak Moderator, sahabat2 indoforum tercinta
    Perkenankanlah saya membuka thread ini dengan harapan agar kita dapat mengambil hikmah dari kisah keteladanan para Nabi & para sahabat Nabi. Kisah-kisah ini insyaalloh akan saya terus saya update, bila ada sahabat-sahabat indoforum yang mau menambahkan sumonggo untuk menambahkan.

    Akhir kata selamat menyimak kisahnya, semoga bermanfaat & semoga thread ini memberikan hikmah bagi kita untuk beraktivitas lebih baik di hari ini, esok, dan seterusnya


    Wassalamulaikum Wr. Wb.
    Attached Files

  2. <a href="http://indo.mt5.com/">Forex Portal MT5</a>
  3. The Following 7 Users Say Thank You to adif2010 For This Useful Post:

    Anton chaniago (03-19-2013), I'm (03-06-2013), irsyad5 (03-11-2013), LorddieLuppy (04-23-2013), nie_ajeng (03-08-2013), syreff (03-12-2013), yogadivo (03-31-2013)

  4. #2
    Forum Resident
     Jatuh Cinta
     
    adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jogja
    Posts
    6,146
    Accumulated bonus
    753.65 USD (What is this?)
    Murid Perempuan
    2 (What is this?)
    Thanks
    671
    Thanked 681 Times in 538 Posts
    Khalifah Umar r.a mendenda anaknya

    Abd Rahman bin Umar Al-Khattab, salah seorang anak Umar al-Khattab berada di Mesir dan dilaporkan telah melakukan kesalahan dengan meminum arak. Beliau kemudiannya meminta Amru bin Al-‘As untuk melaksanakan hukuman ke atasnya.

    Namun Amru al-‘as r.a merasa serba salah karena ia adalah anak khlaifah lalu menjatuhkan hukuman secara sedikit berbeza iaitu mencukur kepalanya dan ia disebat secara tertutup di dalam rumahnya. Sepaptunya prosedur di ketika itu adalah hukuman minum arak mestilah dicukur dan disebat pada waktu yang sama di hadapan khalayak ramai.

    Peristiwa ini bocor kepada Umar r.a lalu beliau menghantar surat yang antara lainnya menyebut :-

    “engkau telah menyebat dan mencukur Abd Rahman di dalam rumahmu dan KAMU TAHU IA BERTENTANGAN DENGAN APA YANG AKU HARAPKAN (hukuman seperti orang lain), …Abd Rahman adalah salah seorang warga di bawah tanggungjawabku (DI AKHIRAT), dan kamu beralasan dengan mengatakannya adalah anak Khalifah sedangkan kamu tahu aku TIDAK SESEKALI BERKOMPROMI dengan sesiapapun dalam melaksanakan amanah terhadap Allah swt” [11]

    [11] Tarikh al-Madinah, Umar ibn Shabh An-Nameeri, 3/841

    Sumber: http://www.zaharuddin.net/content/view/797/72/

  5. The Following 3 Users Say Thank You to adif2010 For This Useful Post:

    irsyad5 (03-11-2013), LorddieLuppy (04-23-2013), nie_ajeng (03-08-2013)

  6. #3
    Forum Resident
     Jatuh Cinta
     
    adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jogja
    Posts
    6,146
    Accumulated bonus
    753.65 USD (What is this?)
    Murid Perempuan
    2 (What is this?)
    Thanks
    671
    Thanked 681 Times in 538 Posts
    Saiyidina Hassan Dan Pemuda Badwi

    Saiyidina Hassan bin Ali r.a., adalah seorang tokoh Islam yang sangat dicintai oleh umat Islam. Sebagai seorang cucu Rasulullh saw, beliau adalah ibarat permata di zaman hidupnya kerana memiliki budi pekerti yang mulia dan terpuji.

    Pada suatu hari sedang Saiyidina Hassan duduk di muka pintu rumahnya, tiba-tiba datang seorang pemuda badwi, lalu mencacinya dan juga kedua ibu bapanya. Anehnya, Saiyidina Hassan hanya mendengar sahaja tanpa sedikit pun berubah air mukanya, atau membalas kata-katanya itu.

    Saiyidina Hassan berkata kepada orang itu: “Wahai badwi, adakah engkau lapar atau dahaga? atau adakah sesuatu yang merungsingkan hati engkau?.” Tanpa mempedulikan kata-kata Saiyidina Hassan, badwi itu terus memaki hamunnya.Oleh itu Saiyidina Hassan pun menyuruh pembantu rumahnya membawa uncang yang berisi wang perak lantas diberikannya kepada badwi itu dan berkata: “Wahai badwi, maafkanlah saya. Inilah sahaja yang saya miliki. Jika ada yang lebih tidak akan saya sembunyikannya dari padamu.”

    Sikap dan layanan Saiyidina Hassan itu akhirnya berjaya melembutkan hati badwi tersebut. Badwi itu menangis teresak-esak lantas sujud di kaki Saiyidina Hassan dan berkata: “Wahai cucu baginda Rasulullah saw. maafkanlah aku kerana berlaku kasar terhadapmu. Sebenarnya aku sengaja melakukan begini untuk menguji kebaikan budi pekertimu sebagai cucu baginda Rasulullh saw. yang aku kasihi. Sekarang yakinlah aku bahawa engkau mempunyai budi pekerti yang mulia sekali.”

    Sumber: http://www.almuzakki.com/saiyidina-h...uda-badwi.html

  7. The Following 2 Users Say Thank You to adif2010 For This Useful Post:

    irsyad5 (03-11-2013), LorddieLuppy (04-23-2013)

  8. #4
    Forum Resident
     Jatuh Cinta
     
    adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jogja
    Posts
    6,146
    Accumulated bonus
    753.65 USD (What is this?)
    Murid Perempuan
    2 (What is this?)
    Thanks
    671
    Thanked 681 Times in 538 Posts
    Kisah Keadilan Umar Bin Khattab dan Kakek Yahudi

    Sejak diangkat menjadi gubernur Mesir oleh Khalifah Umar bin Khattab, Amr bin Ash menempati sebuah istana megah yang di depannya terhampar sebidang tanah kosong berawa-rawa, dan diatasnya hanya terdapat gubuk reyot yang hampir roboh. Selaku gubernur, ia menginginkan agar di atas tanah tersebut, didirikan sebuah masjid yang indah dan mewah agar seimbang dengan istananya. Apalagi Amr bin Ash tahu bahwa tanah dan gubuk itu ternyata milik seorang yahudi. Maka yahudi tua pemilik tanah itu dipanggil menghadap istana untuk merundingkan rencana Gubernur Amr bin Ash.

    “Hei Yahudi, berapa harga jual tanah milikmu sekalian gubuknya? Aku hendak membangun masjid di atasnya.”

    Yahudi itu menggelengkan kepalanya, “Tidak akan saya jual, Tuan.”

    “Kubayar tiga kali lipat dari harga biasa?” tanya Gubernur menawarkan keuntungan yang besar.

    “Tetap tidak akan saya jual” jawab si Yahudi.

    “Akan kubayar lima kali lipat dibanding harga yang umum!” desak Gubernur.

    Yahudi itu mempertegas jawabannya, “Tidak.”

    Maka sepeninggal kakek beragama Yahudi itu, Amr bin Ash memutuskan melalui surat untuk membongkar gubuk reyotnya dan mendirikan masjid besar di atas tanahnya dengan alasan kepentingan bersama dan memperindah pemandangan mata. Yahudi pemilik tanah dan gubuk tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi tindakan penguasa. Ia cuma mampu menangis dalam hati. Namun ia tidak putus asa memperjuangkan haknya. Ia bertekad hendak mengadukan perbuatan gubernur tersebut kepada atasannya di Madinah, yaitu Khalifah Umar bin Khattab.

    Sungguh ia tak menyangka, Khalifah yang namanya sangat tersohor itu tidak mempunyai istana yang mewah. Ia bahkan diterima Khalifah di halaman masjid Nabawi, di bawah sebatang pohon kurma yang rindang.

    “Ada keperluan apa Tuan datang jauh-jauh kemari dari Mesir?” tanya Khalifah Umar. Walaupun Yahudi tua itu gemetaran berdiri di depan Khalifah, tetapi kepala negara yang bertubuh tegap itu menatapnya dengan pandangan sejuk sehingga dengan lancar ia dapat menyampaikan keperluannya dari semenjak kerja kerasnya seumur hidup untuk dapat membeli tanah dan gubuk kecil, sampai perampasan hak miliknya oleh gubernur Amr bin Ash dan dibangunnya masjid megah diatas tanah miliknya.

    Umar bin Khattab mendadak merah padam mukanya. Dengan murka ia berkata, “Perbuatan Amr bin Ash sudah keterlaluan.” Sesudah agak reda emosinya, Umar lantas menyuruh Yahudi tersebut mengambil sebatang tulang dari tempat sampah yang treronggok di dekatnya. Yahudi itu ragu melakukan perintah tersebut. Apakah ia salah dengar? Oleh sang Khalifah, tulang itu digoreti huruf alif lurus dari atas ke bawah, lalu dipalang di tengah-tengahnya menggunakan ujung pedang. Kemudian tulang itu diserahkan kepada si kakek seraya berpesan, “Tuan. Bawalah tulang ini baik-baik ke Mesir, dan berikanlah pada gubernurku Amr bin Ash.”

    Yahudi itu semakin bertanya-tanya. Ia datang jauh-jauh dari Mesir dengan tujuan memohonkan keadilan kepada kepala negara, namun apa yang ia peroleh? Sebuah tulang berbau busuk yang cuma digoret-goret dengan ujung pedang. Apakah Khalifah Umar tidak waras?

    “Maaf, Tuan Khalifah.” ucapnya tidak puas, “Saya datang kemari menuntut keadilan, namun bukan keadilan yang Tuan berikan. Melainkan sepotong tulang yang tak berharga. Bukankah ini penghinaan atas diri saya?”

    Umar tidak marah. Ia meyakinkan dengan penegasannya, “Hai, kakek Yahudi. Pada tulang busuk itulah terletak keadilan yang Tuan inginkan.”

    Maka, walaupun sambil mendongkol dan mengomel sepanjang jalan, kakek Yahudi itu lantas berangkat menuju tempat asalnya dengan berbekal sepotong tulang belikat unta berbau busuk. Anehnya, begitu tulang yang tak bernilai tersebut diterima oleh gubernur Amr bin Ash, tak disangka mendadak tubuh Amr bin Ash menggigil dan wajahnya menyiratkan ketakutan yang amat sangat. Seketika itupula ia memerintahkan segenap anak buahnya untuk merobohkan masjid yang baru siap, dan supaya dibangun kembali gubuk milik kakek Yahudi serta menyerahkan kembali hak atas tanah tersebut.

    Anak buah Amr bin Ash sudah berkumpul seluruhnya. Masjid yang telah memakan dana besar itu hendak dihancurkan. Tiba-tiba kakek Yahudi mendatangi gubernur Amr bin Ash dengan buru-buru.

    “Ada perlu apalagi, Tuan?” tanya Amr bin Ash yang berubah sikap menjadi lembut dan penuh hormat. Dengan masih terengah-engah, Yahudi itu berkata, “Maaf, Tuan. Jangan dibongkar dulu masjid itu. Izinkanlah saya menanyakan perkara pelik yang mengusik rasa penasaran saya.”

    “Perkara yang mana?” tanya gubernur tidak mengerti.

    “Apa sebabnya Tuan begitu ketakutan dan menyuruh untuk merobohkan masjid yang dibangun dengan biaya raksasa, hanya lantaran menerima sepotong tulang dari Khalifah Umar?”

    Gubernur Amr bin Ash berkata pelan,”Wahai Kakek Yahudi. ketahuilah, tulang itu adalah tulang biasa, malah baunya busuk. Tetapi karena dikirimkan Khalifah, tulang itu menjadi peringatan yang amat tajam dan tegas dengan dituliskannya huruf alif yang dipalang di tengah-tengahnya.”

    “Maksudnya?” tanya si kakek makin keheranan.

    “Tulang itu berisi ancaman Khalifah: Amr bin Ash, ingatlah kamu. Siapapun engkau sekarang, betapapun tingginya pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat nanti kamu pasti akan berubah menjadi tulang yang busuk. Karena itu, bertindak adillah kamu seperti huruf alif yang lurus, adil di atas dan di bawah, Sebab, jika engkau tidak bertindak lurus, kupalang di tengah-tengahmu, kutebas batang lehermu.”

    Yahudi itu menunduk terharu. Ia kagum atas sikap khalifah yang tegas dan sikap gubernur yang patuh dengan atasannya hanya dengan menerima sepotong tulang. Benda yang rendah itu berubah menjadi putusan hukum yang keramat dan ditaati di tangan para penguasa yang beriman. Maka yahudi itu kemudian menyerahkan tanah dan gubuknya sebagai wakaf. Setelah kejadian itu, ia langsung menyatakan masuk Islam.

    Sumber: 30 kisah teladan yang ditulis K.H Abdurrahman Arroisi

  9. The Following 2 Users Say Thank You to adif2010 For This Useful Post:

    irsyad5 (03-11-2013), LorddieLuppy (04-23-2013)

  10. #5
    Forum Resident
     Jatuh Cinta
     
    adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jogja
    Posts
    6,146
    Accumulated bonus
    753.65 USD (What is this?)
    Murid Perempuan
    2 (What is this?)
    Thanks
    671
    Thanked 681 Times in 538 Posts
    Kisah Masuk Islam-nya Umar bin Khattab RA

    Umar bin Khattab ra terkenal sebagai orang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sering kali pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam hati Umar sering berkecamuk perasaan-perasaan yang berlawanan, antara pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang, kesenangan terhadap hiburan dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Islam itu lebih mulia dan lebih baik.

    Sampailah kemudian suatu hari, beliau berjalan dengan pedang terhunus untuk segera menghabisi Rasulullah SAW. Namun di tengah jalan, beliau dihadang oleh Abdullah an-Nahham al-‘Adawi seraya bertanya:

    “Hendak kemana engkau ya Umar ?”,
    “Aku hendak membunuh Muhammad”, jawabnya.
    “Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad ?”,
    “Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?”. Tanya Umar.
    “Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu”, kata Abdullah.

    Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Art yang sedang mengajarkan al-Quran kepada keduanya (Fatimah, saudara perempuan Umar dan suaminya). Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran al-Quran.

    Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya :

    “Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?”,
    “Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja”, jawab mereka
    “Pasti kalian telah murtad”, kata Umar dengan geram
    “Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu ?”, jawab ipar Umar.

    Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung menendangnya dengan keras hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera memba-ngunkan suaminya yang berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga wajahnya berdarah, maka berkata-lah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah:

    “Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”

    Melihat keadaan saudara perempuannya dalam keadaan ber-darah, timbul penyesalan dan rasa malu di hati Umar. Lalu dia meminta lembaran al-Quran tersebut. Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut dan Umar pun menurutinya.

    Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca : Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian dia berkomentar: “Ini adalah nama-nama yang indah nan suci”

    Kemudian beliau terus membaca :
    طه
    Hingga ayat :

    إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

    “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”
    (QS. Thaha : 14)
    Beliau berkata :

    “Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad”.

    Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art keluar dari balik rumah, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, saya berharap bahwa doa Rasulullah SAW pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau SAW berdoa :

    “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Rasulullah SAW sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.

    Umar bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba di sana dia mengetuk pintu. Seseorang yang ber-ada di dalamnya, berupaya mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya Umar bin Khattab datang dengan garang bersama pedangnya. Segera dia beritahu Rasulullah SAW, dan merekapun berkumpul. Hamzah bertanya:

    “Ada apa ?”.
    “Umar” Jawab mereka.
    “Umar ?!, bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.

    Rasulullah SAW memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata :

    “Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab”.

    Maka berkatalah Umar :
    “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah .
    Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil-Haram.

    Masuk Islamnya Umar menimbulkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik, sebaliknya disambut suka cita oleh kaum muslimin.

    Sumber: google.com

  11. The Following 3 Users Say Thank You to adif2010 For This Useful Post:

    irsyad5 (03-11-2013), LorddieLuppy (04-23-2013), nie_ajeng (03-08-2013)

  12. #6
    Forum Resident
     Jatuh Cinta
     
    adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jogja
    Posts
    6,146
    Accumulated bonus
    753.65 USD (What is this?)
    Murid Perempuan
    2 (What is this?)
    Thanks
    671
    Thanked 681 Times in 538 Posts
    Umar bin Khattab dan Rakyat Jelata

    Kisah teladan pada hari libur ini akan sedikit bercerita tentang kepedulian Khalifah Umar bin Khattab terhadap rakyat miskin. Kisah ini sudah sangat terkenal di kalangan Umat Islam. Bagi para pembaca, silahkan siapkan tisu untuk menyeka air mata yang kemungkinan akan keluar pada akhir cerita ya.

    Kisahnya

    Semua sudah tahu kan dengan sosok pemimpin Islam yang menjadi Khalifah kedua, dialah Umar bin Khattab r.a. Umar bin Khattab ini masuk dalam Islam berkat hidayah dari Allah yang pertama, yang kedua berkat doa Rasulullah SAW dan yang ketiga berkat adiknya Fatimah yang terlebih dulu menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW berkat lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacanya.

    Doa Rasulullah kala itu adalah,
    "Semoga Allah memberi kejayaan pada Islam dengan masuknya Umar ke dalam Islam."
    Dan Allah SWT pun mengabulkan doa tersebut.

    Kembali ke pokok cerita, antara Khalifah Umar dan rakyat.
    Umar adalah sosok pemimpin teladan yang sangat mengerti kepentingan rakyatnya. Padahal ia sendiri hidup dalam kondisi sangat sederhana.
    Pada suatu malam, sudah menjadi kebiasaan bahwa Khalifah Umar bin Khattab sering berkeliling mengunjungi, menginvestigasi kondisi rakyatnya dari dekat.

    Nah, pada suatu malam itu, ia menjumpai sebuah gubuk kecil yang dari dalam terdengar suara tangis anak-anak. Ia pun mendekat dan mencoba untuk memperhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu.

    Dialog Umar bin Khattab dengan seorang Ibu.
    Ternyata dalam gubuk itu terlihat seorang ibu yang sedang memasak, dan dikelilingi oleh anak-anaknya yang masih kecil.
    Si ibu berkata kepada anak-anaknya,

    "Tunggulah...! Sebentar lagi makanannya matang."

    Sang Khalifah memperhatikan dari luar, si ibu terus menerus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan yang dimasaknya akan segera matang.

    Sang Khalifaf menjadi sangat penasaran, karena yang dimask oleh ibu itu tidak kunjung matang, padahal sudah lama dia memasaknya.

    Akhirnya Khalifah Umar memutuskan untuk menemui ibu itu,
    "Mengapa anak-anakmu tidak juga berhenti menangis, Bu..?" tanya Sang Khalifah.
    "Mereka sangat lapar," jawab si ibu.
    "Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dimasak dari tadi itu?" tanya Khalifah.
    "Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanya berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah mereka berfikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur." jawab si ibu.

    Setelah mendengar jawab si ibu, hati sang Kahlifah Umar bin Khattab serasa teriris.
    Kemudian Khalifah bertanya lagi,

    "Apakah ibu sering berbuat demikian setiap hari?"
    "Iya, saya sudah tidak memiliki keluarga atau pun suami tempat saya bergantung, saya sebatang kara...," jawab si ibu.
    Hati dari sang Khalifah laksana mau copot dari tubuh mendengar penuturan itu, hati terasa teriris-iris oleh sebilah pisau yang tajam.
    "Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat meolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal?" tanya sang khalifah lagi.
    "Ia telah zalim kepada saya...," jawab si ibu.
    "Zalim....," kata sang khalifah dengan sedihnya.
    "Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan saya!" kata si ibu.

    Khalifah Umar bin Khattab kemudian berdiridan berkata,
    "Tunggulah sebenatar Bu ya. Saya akan segera kembali."

    Bantuan dari Khalifah

    Di malam yang semakin larut dan hembusan angin terasa kencang menusuk, Sang Khalifah segera bergegas menuju Baitul Mal di Madinah. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk memasak.
    Jarak antara Madinah denga rumah ibu itu terbilang jauh, hingga membuat keringat bercucuran dengan derasnya dari tubuh Umar. Melihat hal ini, Abbas berniat untuk menggantikan Umar untuk mengangkat karung yang dibawanya itu, tapi Umar menolak sambil berkata,
    "Tidak akan aku biarkan engkau membawa dosa-dosaku di akhirat kelak. Biarkan aku bawa karung besar ini karena aku merasa sudah begitu bersalah atas apa yang terjadi pada ibu dan anak-anaknya itu."

    Beberapa lama kemudian sampailah Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu.
    Begitu sekarung gandum dan minyak samin itu diserahkan, bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal.
    Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab.
    Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.

    Nah, itulah kisah pemimpin teladan kita kali ini, sahabat Rasulullah SAW, Khalifah Umat Islam yang kedua, Umar bin Khattab.
    Pelajaran berharga ini juga ada di Indonesia loh...yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh pemerintah, seperti pada zaman Khalifah Umar bin Khattab yang menyuruh rakyatnya yang miskin untuk mendaftarkan diri di Baitul Mal dalam cerita di atas.

    Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com

  13. The Following 2 Users Say Thank You to adif2010 For This Useful Post:

    irsyad5 (03-11-2013), LorddieLuppy (04-23-2013)

  14. #7
    Forum Resident
     Jatuh Cinta
     
    adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jogja
    Posts
    6,146
    Accumulated bonus
    753.65 USD (What is this?)
    Murid Perempuan
    2 (What is this?)
    Thanks
    671
    Thanked 681 Times in 538 Posts
    Sayyidina Ali dan Orang Nasrani

    Sayyidina Ali sangat terkenal sebagai seorang Khalifah yang adil. Ia tak mau menang sendiri terhadap rakyatnya dalam persoalan apapun. Setiap urusan selalu diupayakan untuk diselesaikan melalui jalur hukum, sesuai dengan aturan yang sebenarnya. Di antara fakta yang membuktikan keadilannya itu ialah, ketika terjadi persengketaan tentang baju besi.

    Suatu ketika ia melihat baju besinya berada di tangan seorang Nasrani, yakni rakyat biasa, bukan orang berpangkat. Kemudian beliau adukan perkaranya kepada hakim bernama Syuraih supaya disidangkan. Persidangan dimulai. Mula-mula Sayyidina Ali berkata : “Baju besi ini adalah milikku. Aku tak pernah menjualnya ataupun memberikannya kepada siapa pun.” Hakim minta keterangan dari pihak tertuduh : “Bagaimana sikapmu atas tuduhan Amirul Mukminin tadi?” Ia menjawab : “Baju besi ini adalah milikku sendiri. Apa yang diutarakan olehnya adalah bohong belaka.” Kembali hakim mengajukan pertanyaan kepada Ali : “Adakah bukti nyata atau saksi mata yang menguatkan tuduhanmu?”. Ia pun tertawa sambil berkata : “ Benarlah Syuraih, aku memang tak punya bukti.” Karena tak ada bukti, maka Syuraih menjatuhkan vonis, bahwa baju besi adalah hak si tertuduh. Seusai sidang si Nasrani pulang dengan membawa baju besinya, sedangkan Ali hanya memandang kepadanya. Namun baru beberapa langkah, si Nasrani itu kembali lagi lalu berkata : “Saya bersaksi bahwa hal semacam ini adalah akhlak para Nabi. Seorang Khalifah membawaku ke majlis hakim untuk menyelesaikan perkara.” Selanjutnya ia mengaku : “Demi Allah, sebenarnya ini adalah baju besimu wahai Amirul Mukminin, saya telah berbohong dalam persidangan tadi.”

    Setelah peristiwa itu orang menyaksikan laki-laki itu menjadi seorang laskar yang paling tangguh dan pahlawan paling pemberani dalam peperangan membela Sayyidina Ali melawan kaum Khawarij di Nahrawan.

    Sumber: http://buletinmitsal.wordpress.com

  15. The Following 2 Users Say Thank You to adif2010 For This Useful Post:

    irsyad5 (03-11-2013), LorddieLuppy (04-23-2013)

  16. #8
    Forum Resident
     Jatuh Cinta
     
    adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jogja
    Posts
    6,146
    Accumulated bonus
    753.65 USD (What is this?)
    Murid Perempuan
    2 (What is this?)
    Thanks
    671
    Thanked 681 Times in 538 Posts
    Kisah Tauladan Zaman Khalifah Umar Al-Khattab

    Seorang pemuda hendak pergi ke kota Makkah untuk menunaikan ibadah umrah,... ia pun menyiapkan bekal dan kenderaannya (unta) dan setelah semua siap maka berangkatlah ia menuju ke Makkah, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, pemuda itu menemukan tempat yang teduh, rimbun ditubuhi oleh tanaman , dia pun berhenti sejenak untuk beristirahat, duduk dibawah sebatang pokok,...dan tidak lama kemudian ia terlelap (tidur).

    Selama ia tertidur, untanya mulai berjalan dari satu tempat ketempat yang lain dan akhirnya masuk kedalam sebuah kebun, ia memakan buah-buahan, tanaman dan meosakkan setiap tempat yang dilaluinya, adapun penjaga kebun itu adalah seorang lelaki yang sudah tua, ia berusaha mengusir unta itu keluar dari kebunnya namun usahanya tidak berhasil, karena bimbang unta itu akan merosakkan semuanya,.. maka ia pun membunuhnya.

    Ketika pemuda itu bangun dari tidurnya, ia mencari untanya yang hilang,... tidak lama kemudian ia menemukan untanya yang sudah mati didalam kebun, ...kemudian datanglah Orang tua yang membunuh untanya,.... pemuda itu bertanya ” siapa yang telah membunuh unta ini ? ”. Maka Orang tua itu menjelaskan apa yang telah dilakukan oleh untanya terhadap tanaman yang ada di kebun itu dan atas sebab itu ia membunuhnya.... Mendengar cerita itu,... si pemuda menjadi sangat marah, lalu ia pun memukul orang tua itu sehingga ia meninggal dunia.

    Pemuda itu pun menyesali atas perbuatannya,... ia berfikir untuk melarikan diri tapi berjaya ditangkap oleh anak penjaga kebun itu dan membawanya kehadapan Amirul mu`minin, Saidina Umar Al-Khattab, agar pemuda yang membunuh ayahnya itu dijatuhi hukum qisash....

    Saidina Umar bertanya kepada pemuda itu, dan ia membenarkan apa yang telah ia lakukan, dan ia menyatakan penyesalan yang mendalam atas perbuatannya tersebut.

    Kata Saidina Umar ” tidak ada jalan lain bagimu selain hukum Allah”.

    Pemuda itu meminta kepada Khalifah Saidina Umar untuk menunda hukuman dan mengizinkannya untuk pulang ke kampungnya selama Dua hari untuk menyelasikan urusan hutang piutang dan mengabarkan hal itu kepada keluarganya.... Saidina Umar berkata ” datangkan orang yang boleh menjaminmu,.. bahwa kamu akan kembali semula kesini,... jika kamu tidak kembali maka kami akan melaksanakan hukuman itu kepadanya sebagai penggantimu ”.Pemuda itu berkata ” Ya Amirul mu`minin,... saya adalah musafir di negri ini... atas sebab itu saya tidak dapat mendatangkan orang yang boleh menjaminku ”.

    Kemudian, tampil seorang sahabat yang mulia, Abu Dzar Al-Ghifari yang kebetulan sedang berada ditempat itu,... lalu ia berkata kepada khalifah ” Ya Amirul mu`minin, kepalaku ini menjadi jaminannya.... jika pemuda ini tidak kembali dalam masa dua hari ”.Dengan takjub khalifah berkata ” apakah anda yang akan menjadi jaminan bagi dirinya wahai sahabat Rasulullah ? ”...Abu Dzar berkata ” Benar !... Ya Amirul mu`minin..”

    Pada hari pelaksanaan hukuman... semua orang menunggu-nunggu kedatangan pemuda itu,... itulah saat-saat yang paling mencemaskan bagi Abu Dzar

    Tiba-tiba orang-orang yang hadir ditempat itu melihat dari kejauhan seseorang sedang berlari-lari.... hingga sampai ketempat pelaksanaan hukuman, semua orang melihatnya dengan wajah kehairanan,...tapi ternyata ia adalah pemuda itu..

    Saidina Umar bertanya ” Wahai pemuda, mengapa engkau kembali lagi, padahal kamu boleh menghindari dirimu dari kematian ?” Pemuda itu menjawab ” Ya Amirul mu`minin, aku melakukan semua ini,... agar manusia tidak beranggapan bahwa menepati janji dikalangan kaum muslimin sudah tidak ada lagi”.

    Khalifah memandang kepada sahabatnya Abu Dzar lalu berkata ”... dan kamu wahai Abu Dzar, mengapa kamu berani melakuakan ini..?, sedangkan kamu tidak mengenali pemuda ini ? ” Abu Dzar menjawab ”... aku lakukan hal ini supaya manusia tidak beranggapan bahwa tanggung jawab dan sikap prihatin sudah tidak ada lagi ditengah-tengah kaum muslimin”.

    Ketika itulah Anak kepada Orang tua yang mati dibunuh itu berkata ”....kini tibalah giliran saya Ya Amirul mu`min,.... saksikanlah oleh mu bahwa saya telah memaafkan pemuda ini dan saya batalkan tuntutan qisash keatasnya,.... jangan sampai orang mengatakan tidak ada lagi maaf dikalangan kaum muslimin, tidak ada hal yang lebih utama selain memaafkan walaupun kita mampu untuk membalas”.

    Sumber: http://guzmanguzik.blogspot.com

  17. The Following 2 Users Say Thank You to adif2010 For This Useful Post:

    irsyad5 (03-11-2013), LorddieLuppy (04-23-2013)

  18. #9
    Forum Resident
     Jatuh Cinta
     
    adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jogja
    Posts
    6,146
    Accumulated bonus
    753.65 USD (What is this?)
    Murid Perempuan
    2 (What is this?)
    Thanks
    671
    Thanked 681 Times in 538 Posts
    Kisah Cinta Fatimah Az-Zahra dengan Sayyidina Ali

    Cinta adalah hal fitrah dimiliki oleh setiap orang, namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut agar bukan cinta yang mengendalikan riri kita
    Tetapi diri kita yang mengendalikan cinta.

    Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
    Chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

    Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
    Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
    Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

    Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
    Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
    Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
    Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercayatak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
    Maka gadis cilik itu bangkit.
    Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
    Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
    Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
    Mengagumkan!
    Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

    Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
    Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
    Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
    Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

    ”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
    Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
    Kedudukan di sisi Nabi?
    Abu Bakr lebih utama,
    mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
    namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
    Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
    sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya...
    Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
    Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
    Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
    Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
    Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
    ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

    ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
    ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

    Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
    Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
    Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

    Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
    Lamaran Abu Bakr ditolak.
    Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
    Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
    Setelah Abu Bakr mundur,
    datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
    seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
    ’Umar ibn Al Khaththab.
    Ya, Al Faruq,
    sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
    ’Umar memang masuk Islam belakangan,
    sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
    Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
    Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
    Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
    Dan lebih dari itu,
    ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
    ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
    Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
    ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.

    Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
    Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
    Menanti dan bersembunyi.
    ’Umar telah berangkat sebelumnya.
    Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
    ”Wahai Quraisy”, katanya.
    ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.

    Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
    ’Umar adalah lelaki pemberani.
    ’Ali, sekali lagi sadar.
    Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
    Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
    ’Umar jauh lebih layak.
    Dan ’Ali ridha..

    Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
    Ia mengambil kesempatan..
    Itulah keberanian.
    Atau mempersilakan.Yang ini pengorbanan.

    Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
    Lamaran ’Umar juga ditolak.
    Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
    Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
    Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
    Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
    Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
    Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
    Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
    Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

    ”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
    ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
    ”Aku?”, tanyanya tak yakin.
    ”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
    ”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
    ”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

    ’Ali pun menghadap Sang Nabi.Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
    Ya, menikahi.
    Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
    Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
    Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
    Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
    Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
    ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
    Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
    Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
    Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

    Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
    Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
    Dan ia pun bingung.
    Apa maksudnya?
    Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
    Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
    Mungkin tidak sekarang.
    Tapi ia siap ditolak.
    Itu resiko.
    Dan kejelasan jauh lebih riDan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
    Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
    Ah, itu menyakitkan.

    ”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
    ”Entahlah..”
    ”Apa maksudmu?”
    ”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
    ”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
    ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
    Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

    Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
    Dengan menggadaikan baju besinya.
    Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
    Itu hutang.

    Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah..
    Dengan keberanian untuk menikah.
    Sekarang.
    Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
    ’Ali adalah gentleman sejati.
    Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
    “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

    Inilah jalan cinta para pejuang.
    Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
    Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
    Seperti ’Ali.
    Ia mempersilakanAtau mengambil kesempatan.
    Yang pertama adalah pengorbanan.
    Yang kedua adalah keberanian.

    Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,

    dalam suatu riwayat dikisahkan

    bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)

    Fathimah berkata kepada ‘Ali,

    “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

    ‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

    Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

    Kisah ini disampaikan disini,bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an

    Kisah ini disampaikan

    agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah

    bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi

    dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu

    Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.

    Sumber: http://aslamiyah.abatasa.com

  19. The Following 2 Users Say Thank You to adif2010 For This Useful Post:

    irsyad5 (03-12-2013), LorddieLuppy (04-23-2013)

  20. #10
    Forum Resident
     Jatuh Cinta
     
    adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010 is a splendid one to behold adif2010's Avatar
    Join Date
    Nov 2010
    Location
    Jogja
    Posts
    6,146
    Accumulated bonus
    753.65 USD (What is this?)
    Murid Perempuan
    2 (What is this?)
    Thanks
    671
    Thanked 681 Times in 538 Posts
    Sayyidina Ali dan Seorang Tua Nasrani

    Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap pagi dan sore Allah SWT selalu memandang wajah orang yang sudah tua, kemudian Allah SWT berfirman: Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka.

    Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali KW sedang tergesa-gesa berjalan menuju masjid untuk melakukan jamaah shubuh. Akan tetapi dalam perjalanan - di depan beliau - ada seorang kakek tua yang berjalan dengan tenang. Kemudian Sayyidina Ali memperlambat langkah kaki tidak mendahuluinya karena memuliakan dan menghormati kakek tua tersebut. Hingga hampir mendekati waktu terbit matahari barulah beliau sampai dekat pintu masjid. Dan ternyata kakek tua tersebut berjalan terus tidak masuk ke dalam masjid, yang kemudian Sayyidina Ali KW akhirnya mengetahui bahwa kakek tua tersebut adalah seorang Nasrani.

    Pada saat Sayyidina Ali KW masuk ke dalam masjid beliau melihat Rasulullah SAW beserta jamaah sedang dalam keadaan ruku'. (Sebagaimana diketahui bahwa ikut serta ruku' bersama dengan imam berarti masih mendapatkan satu rakaat). Rasulullah SAW waktu itu memanjangkan waktu ruku'nya hingga kira-kira dua ruku'. Kemudian Sayyidina Ali KW ber-takbiratul ihram dan langsung ikut serta ruku'.

    Setelah selesai shalat para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah tidak biasanya engkau ruku' selama ini, ada apakah gerangan? Beliau menjawab: Pada waktu aku telah selesai ruku' dan hendak bangkit dari ruku' tiba-tiba datang malaikat Jibril AS meletakkan sayapnya di atas punggungku, sehingga aku tidak bisa bangkit dari ruku'. Para sahabatpun bertanya: Mengapa terjadi demikian? Beliau menjawab: Aku sendiri pun tidak tahu.

    Kemudian datanglah malaikat Jibril AS dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali waktu itu sedang bergegas menuju masjid untuk jama'ah shubuh, dan di perjalanan ada seorang kakek tua Nasrani berjalan di depannya, Ali pun tidak mengetahui kakek tua itu beragama Nasrani. Ali tidak mau mendahuluinya karena dia sangat menghormati dan memuliakan kakek tua tersebut. Kemudian aku diperintah oleh Allah SWT untuk menahanmu saat ruku' sampai Ali datang dan tidak terlambat mengikuti jama'ah shubuh. Selain itu Allah SWT juga memerintah malaikat Mikail untuk menahan matahari menggunakan sayapnya hingga matahari tidak bersinar sampai jama'ah selesai.

    Demikianlah hikmah kisah teladan Sayyidina Ali KW yang sangat menghormati dan memuliakan orang yang tua walaupun beragama Nasrani. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

    Sumber: http://www.nu.or.id/

  21. The Following 2 Users Say Thank You to adif2010 For This Useful Post:

    irsyad5 (03-13-2013), LorddieLuppy (04-23-2013)

Reply to Thread
Page 1 of 5
1 2 3 ... LastLast

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts